Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Teorema Titik Khayal Ku

Jauh dalam titik khayalku,,
Aku tak mengerti apa yang terjadi dalami logika pikiran dan hati,,
Semua bagaikan bilangan bilangan imajiner,,
ada namun tak dapat terdefinisi,,,

Ingin ku membuktikan semua teorema-teorema yang terus membayangi pikiranku,,
Namun,, tak cukup definisi bagiku untuk membuktikannya,,

Sungguh bukan ku tak ingin sebuah konsep relasi,,
Bukan pula aku tak ingin sebuah konsep fungsi biasa,,
Namun, yang ku harapkan adalah sebuah fungsi injektif,
fungsi satu-satu dimana hanya terdiri satu anggota daerah domain dan satu daerah anggota kodomain.

Dalam bidang geometri hatiku,,,
Ingin segera ku transformasikan semua yang ku rasakan padamu,
namun tak jua aku temukan transformasi yang tepat untuk itu,

Hadi

By : Ahsani Takwim

Mata Hadi Nampak masih sendu dan layu. Sudah enam hari enam malam ia tidak tidur hanya untuk menunggui istri tercintanya. Namun tubuh Marni masih tetap diam, matanya masih tetap tertutup, mulutnya masih tetap terkunci rapat, seolah-olah ia sedang tertidur nyenyak. Hanya hembusan nafasnyalah yang masih terdengar secara teratur. Terkadang Hadi merasa frustasi mengahadapi kejadian aneh yang selalu menerpanya ini.
            Padahal apalah dosa Marni, istri yang baru dinikahinya sebulan lalu itu mendadak jatuh sakit. Sakit yang tak kunjung sembuh, sakit yang sama yang telah diderita oleh wanita-wanita sebelum Marni. Mereka adalah Surti, Fatimah dan Maryanti. Mereka yang sama-sama pernah menjadi istri Hadi mengalami hal yang serupa. Padahal Hadi menikahi mereka semua  dengan cara yang baik-baik tanpa ada pikiran jahat sedikit pun.
            Lama mata Hadi menatap tubuh Marni jengkal demi jengkal. Hampir tak ada cacat sedikitpun di dalam fisik Marni. Wanita ini memang bebeda. Marni memiliki wajah yang lebih manis dari pada istri-istri hadi sebelumnya, kulit yang putih bersih, rambut yang panjang dan halus. Padahal Marni hanyalah seorang gadis desa yang tak pernah ke salon-salon atau pusat-pusat kecantikan. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun, Marni masih menujukkan kecantikannya.
            Oleh karena itu, sekali ini Hadi tak akan membiarkan kejadian-kejadian yang dulu terulang kembali. Ia tidak akan pernah memejamkan matanya hingga Marni bangun dan kembali mengucapkan kata-kata cinta kepadanya lagi. Bahkan ia akan dengan senang hati  menjual semua hartanya agar ia bisa menyembuhkan

TEATER RAKSASA

Namun itulah hidup yang harus kita jalani, semuanya serba misteri dan rahasia. Dan kau sangat yakin bila sebenarnya bukan kita yang menentukan hidup kita, tapi hiduplah yang menentukan kita. Entah itu yang terbaik atau terburuk, tapi hanya itulah yang bisa hidup lakukan untuk kita.

Belajarlah untuk meyakini kehidupanmu. Kehidupan yang saat ini sedang kau hirup dan sedang kau rasakan merupakan ujjian tersirat bagi mu untuk bisa mendapatkan kesempurnaan manusia.
Tak lain ini adalah sebuah panggung teater yang besar dan nyata, tapi satu hal yang tidak berubah, semuanya memiliki scenario.

Negeriku yang (tidak) Damai

 By Ahsani Takwim
Dulu
Wajah itu masih polos
Masih lugu
Walau kadang menderita
Tetap jua tak hilang nurani

Itu dulu

Sekarang
Wajah itu mulai bringasan
Penuh dengki, iri di hati
Pakaian symbol keangkuhan
Seolah lupa hari kemarin

Setumpuk Surat di Pagi Hari

By Ahsani Takwim

Aku lesu
Layu
Berkeringat dan bepeluh
Terombang ambing
Terbawa sang bayu

Kertas-kertasnya masih baru
Merah, jingga, kuning, hitam, biru, ungu
Kertas-kertas masih menunggu
Menantinya tuk dilirik matamu